pengetahuan gas alam dan batubara
Gas
Alam
![]() |
| rick minyak bumi |
Gas
alam sering juga disebut sebagai gas bumi atau gas rawa,
adalah bahan bakar fosil berbentuk gas yang terutama terdiri dari metana (CH4).
Ia dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas bumi dan juga tambang batu
bara. Ketika gas yang kaya dengan metana diproduksi melalui pembusukan oleh
bakteri anaerobik dari bahan-bahan
organik selain dari fosil, maka ia disebut biogas. Sumber biogas dapat
ditemukan di rawa-rawa, tempat pembuangan akhir sampah, serta penampungan
kotoran manusia dan hewan.
Komponen utama dalam
gas alam adalah metana (CH4), yang merupakan molekul hidrokarbon rantai
terpendek dan teringan. Gas alam juga mengandung molekul-molekul hidrokarbon
yang lebih berat seperti etana (C2H6), propana (C3H8) dan butana (C4H10),
selain juga gas-gas yang mengandung sulfur (belerang). Gas alam juga merupakan
sumber utama untuk sumber gas helium.
Metana adalah gas rumah
kaca yang dapat menciptakan pemanasan global ketika terlepas ke atmosfer, dan
umumnya dianggap sebagai polutan ketimbang sumber energi yang berguna. Meskipun
begitu, metana di atmosfer bereaksi dengan ozon, memproduksi karbon dioksida
dan air, sehingga efek rumah kaca dari metana yang terlepas ke udara relatif
hanya berlangsung sesaat. Sumber metana yang berasal dari makhluk hidup
kebanyakan berasal dari rayap, ternak (mamalia) dan pertanian (diperkirakan
kadar emisinya sekitar 15, 75 dan 100 juta ton per tahun secara berturut-turut).
Metode
penyimpanan gas alam dilakukan dengan "Natural Gas Underground
Storage", yakni suatu ruangan raksasa di bawah tanah yang lazim disebut
sebagai "salt dome" yakni kubah-kubah di bawah tanah yang terjadi
dari reservoir sumber-sumber gas alam yang telah depleted. Hal ini sangat tepat
untuk negeri 4 musim. Pada musim panas saat pemakaian gas untuk pemanas jauh
berkurang (low demand), gas alam diinjeksikan melalui kompresor-kompresor gas
kedalam kubah di dalam tanah tersebut. Pada musim dingin, di mana terjadi
kebutuhan yang sangat signifikan, gas alam yang disimpan di dalam kubah bawah
tanah dikeluarkan untuk disalurkan kepada konsumen yang membutuhkan. Bagi
perusahaan (operator) penyedia gas alam, cara ini sangat membantu untuk menjaga
stabilitas operasional pasokan gas alam melalui jaringan pipa gas alam.
Pada dasarnya sistem transportasi
gas alam meliputi :
1. Transportasi melalui
pipa salur.
Transportasi dalam
bentuk Liquefied Natural Gas (LNG) dengan kapal tanker LNG untuk pengangkutan
jarak jauh.
2. Transportasi dalam
bentuk Compressed Natural Gas (CNG), baik di daratan dengan road tanker maupun
dengan kapal tanker CNG di laut, untuk jarak dekat dan menengah (antar pulau).
Carrier LNG dapat digunakan
untuk mentransportasi gas alam cair (liquefied natural gas, LNG) menyebrangi
samudra, sedangkan truk tangki dapat membawa gasa alam cair atau gas alam
terkompresi (compressed natural gas, CNG) dalam jarak dekat. Mereka dapat
mentransportasi gas alam secara langsung ke pengguna-akhir atau ke titik
distribusi, seperti jalur pipa untuk transportasi lebih lanjut. Hal ini masih
membutuhkan biaya yang besar untuk fasilitas tambahan untuk pencairan gas atau
kompresi di titik produksi, dan penggasan atau dekompresi di titik
pengguna-akhir atau ke jalur pipa.
Pemanfaatan gas alam di
Indonesia dimulai pada tahun 1960-an di mana produksi gas alam dari ladang gas
alam PT Stanvac Indonesia di Pendopo, Sumatera Selatan dikirim melalui pipa gas
ke pabrik pupuk Pusri IA, PT Pupuk Sriwidjaja di Palembang. Perkembangan
pemanfaatan gas alam di Indonesia meningkat pesat sejak tahun 1974, di mana
PERTAMINA mulai memasok gas alam melalui pipa gas dari ladang gas alam di
Prabumulih, Sumatera Selatan ke pabrik pupuk Pusri II, Pusri III dan Pusri IV
di Palembang. Karena sudah terlalu tua dan tidak efisien, pada tahun 1993 Pusri
IA ditutup,dan digantikan oleh Pusri IB yang dibangun oleh putera-puteri bangsa
Indonesia sendiri. Pada masa itu Pusri IB merupakan pabrik pupuk paling modern
di kawasan Asia, karena menggunakan teknologi tinggi. Di Jawa Barat, pada waktu
yang bersamaan, 1974, PERTAMINA juga memasok gas alam melalui pipa gas dari
ladang gas alam di lepas pantai (off shore) laut Jawa dan kawasan Cirebon untuk
pabrik pupuk dan industri menengah dan berat di kawasan Jawa Barat dan Cilegon
Banten. Pipa gas alam yang membentang dari kawasan Cirebon menuju Cilegon,
Banten memasok gas alam antara lain ke pabrik semen, pabrik pupuk, pabrik
keramik, pabrik baja dan pembangkit listrik tenaga gas dan uap.
Selain untuk kebutuhan
dalam negeri, gas alam di Indonesia juga di ekspor dalam bentuk LNG (Liquefied
Natural Gas)
Salah satu daerah
penghasil gas alam terbesar di Indonesia adalah Aceh. Sumber gas alam yang
terdapat di daerah Kota Lhokseumawe dikelola oleh PT Arun NGL Company. Gas alam
telah diproduksikan sejak tahun 1979 dan diekspor ke Jepang dan Korea Selatan.
Selain itu di Krueng Geukuh, Nanggröe Aceh Barôh (kabupaten Aceh Utara) juga
terdapat PT Pupuk Iskandar Muda pabrik pupuk urea, dengan bahan baku dari gas
alam. (https://id.wikipedia.org/wiki/Gas_alam)
Batu
Bara
![]() |
| batubara |
Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk, dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Pembentukan batu bara
memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu
sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu
(jtl), adalah masa pembentukan batu bara yang paling produktif di mana hampir
seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara
terbentuk.
Pada Zaman Permian,
kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di
belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke
Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di berbagai belahan bumi lain. Hampir
seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan.
Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:
Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:
Alga, dari Zaman
Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan batu
bara dari periode ini.
Silofita, dari Zaman
Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batu
bara dari periode ini.
Pteridofita, umur Devon
Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk batu bara berumur Karbon di
Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak
dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
Gimnospermae, kurun
waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual,
biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin)
tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah
penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.
Angiospermae, dari
Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan
dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga,
secara umum, kurang dapat terawetkan.
Kelas dan jenis batu bara
Kelas dan jenis batu bara
Berdasarkan tingkat
proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batu bara
umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan
gambut.
Antrasit adalah kelas
batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung
antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.
Bituminus mengandung 68
- 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batu bara
yang paling banyak ditambang di Australia.
Sub-bituminus
mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber
panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
Lignit atau batu bara
coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari
beratnya.
Gambut, berpori dan
memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.
Pembentukan batu bara
Pembentukan batu bara
Proses perubahan
sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batu bara disebut dengan istilah
pembatu baraan (coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi,
yakni:
Tahap Diagenetik atau
Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit
terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar
air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses
pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
Tahap Malihan atau
Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya
antrasit.
Di Indonesia, endapan
batu bara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan Tersier, yang terletak di
bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera dan Kalimantan), pada
umumnya endapan batu bara ekonomis tersebut dapat dikelompokkan sebagai batu
bara berumur Eosen atau sekitar Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang
lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu
menurut Skala waktu geologi.
Batu bara ini terbentuk
dari endapan gambut pada iklim purba sekitar khatulistiwa yang mirip dengan
kondisi kini. Beberapa di antaranya tegolong kubah gambut yang terbentuk di
atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata
lain, kubah gambut ini terbentuk pada kondisi di mana mineral-mineral anorganik
yang terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batu bara
yang berkadar abu dan sulfur rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat
umum dijumpai pada batu bara Miosen. Sebaliknya, endapan batu bara Eosen
umumnya lebih tipis, berkadar abu dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batu
bara ini terbentuk pada lingkungan lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip
dengan daerah pembentukan gambut yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera
dan sebagian besar Kalimantan. (https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara)


Terima kasih infonya :)
BalasHapusterimakasih infonya :)
BalasHapussemoga bermanfaat 😊
BalasHapus